POLGAS (politik Gagasan) adalah Media Independen yang mengulas Dunia Politik dengan pendekatan ilmiah, mengkaji hubungan antara masyarakat dan negara.
[instagram-feed feed=1]

Oleh: Leopold Therik (Ketua Bappilu Presiden DPW Partai Perindo NTT)
Shalom. Salam sejahtera untuk kita semua. Merdeka!
Ada kalanya perayaan kemerdekaan tak cukup disambut dengan kemeriahan semata. Ada saatnya kita perlu menundukkan kepala, mengheningkan cipta, mengulurkan tangan, dan memanjatkan doa terbaik bagi saudara-saudara sebangsa yang sedang dihantam musibah.
Di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 ini, hati saya sebagai anak Nusa Tenggara Timur (NTT) terasa begitu berat.
Flores sedang berduka.
Gempa bumi yang mengguncang Flores dan wilayah NTT menjadi pengingat membekas: di balik indahnya Sang Saka Merah Putih yang berkibar, masih ada saudara-saudara kita yang harus bertaruh dengan ketakutan, kehilangan, kerusakan, dan ketidakpastian.
Sebagai kader dan Ketua Bappilu Presiden DPW Partai Perindo NTT, saya menyampaikan rasa duka, simpati, serta keprihatinan yang mendalam kepada seluruh masyarakat terdampak.
Khusus untuk basodara di Flores mulai dari Manggarai Raya, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, hingga seluruh wilayah sekitarnya ingatlah satu hal:
Kalian tidak sendiri. Kami merasakan duka itu, kami merasakan kecemasan itu, dan dalam keterbatasan kami, doa terus mengalir agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan.
Makna kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremonial upacara, pengibaran bendera, atau pidato kenegaraan. Kemerdekaan sejati harus mewujud nyata dalam bentuk kehadiran negara yang melindungi rakyatnya.
Ketika bencana melanda:
Flores adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Jika satu bagian tubuh bangsa ini terluka, seluruh penjuru Nusantara harus ikut merasakan sakitnya. Inilah marwah sesungguhnya dari Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda suku, agama, bahasa, dan adat budaya, namun saat musibah menimpa, kita berdiri kokoh sebagai satu keluarga besar Indonesia—dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.
Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh berselisih pendapat tentang jalannya pemerintahan. Kita bebas menjadi pendukung maupun pengkritik.
Namun, bencana tidak pernah mengenal pilihan politik. Gempa bumi tidak akan bertanya siapa memilih siapa.
Oleh karena itu, ketika saudara kita berduka, politik harus menepi dan memberi ruang seluas-luasnya bagi kemanusiaan. Politik yang baik bukan sekadar bertarung demi memenangkan kontestasi, melainkan jalan untuk menghadirkan kepedulian, perlindungan, kesejahteraan, dan harapan bagi rakyat.
Semangat Partai Perindo tentang persatuan Indonesia harus kita manifestasikan dalam aksi nyata: peduli pada rakyat, hadir di saat mereka membutuhkan, dan bergandengan tangan menembus badai kesulitan.
Hari ini, Flores membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata. Flores membutuhkan kepedulian, solidaritas, bantuan konkret, pelayanan medis, dan doa kita bersama.
Mari jadikan momentum kemerdekaan ini sebagai panggilan jiwa untuk mempererat persaudaraan. Mari membantu semampu kita, mendoakan tulus saudara-saudara kita, dan memastikan tidak ada satu pun masyarakat Flores yang merasa berjuang sendirian.
Sebab, kemerdekaan sejati adalah kemampuan sebuah bangsa untuk tetap berdiri bersama saat sebagian rakyatnya sedang mengalami penderitaan.
Untuk basodara di Flores:
Merah Putih tetap berkibar, Garuda tetap di dada, dan Flores akan selalu ada di hati kami.
Dari NTT untuk Indonesia.
Dari hati kami untuk Flores.
Dari Merah Putih untuk seluruh basodara yang sedang berduka.
Garuda di Dadaku,
Flores di Hatiku,
Basodara Flores dalam Doaku.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.