“Reformasi Harus Mati”

Budaya plesetan mulai meluas dalam kehidupan masyarakat kita,dan biasanya mengandung makna sindiran,ejekan ataupun mainan belaka saja.Kini kata reformasi pun mengalami nasib yang sama,dan diplesetkan masyarakat menjadi “Refot Nasi”,artinya repot atau sulit mencari sesuap nasi.Reformasi bagi rakyat pada umumnya memang telah membawa dampak pada semakin repotnya mencari sesuap nasi.Meskipun ada juga yang sebaliknya,dimana reformasi memberikan kenyamanan pada orang-orang tertentu,dan mungkin itulah yang membuat mereka terlena dengan tuntutan reformasi.

Jika reformasi artinya menjadi “repot mencari sesuap nasi” dan berkembang menjadi anarki,maka atas nama apapun reformasi yang demikian sebaiknya memang harus mati dan dimatikan saja,karena reformasi hanya akan menyengsarakan kehidupan rakyatnya.Kita harus menyadari betapa banyaknya penumpang gelap dalam reformasi,sehingga reformasi berbelok arah menjadi anarki.Suka atau tidak suka,kenyataan menunjukan bahwa rakyat makin hari makin hidup susah dan miskin,rasa aman mulai terganggu dan kreativitas bangsa semakin menurun dengan kuatnya cara-cara paksaan dan kekerasan.Jika kita ingin menyelamatkan reformasi,maka visi dan misi reformasi harus jelas dan terukur,terutama untuk memberantas KKN(korupsi,kolusi,nepotisme),dan tidak ada cara lain untuk merealisasikannya dalam praktik hidup kecuali dengan memberikan contoh keteladanan etika dan moral dari para pemimpinnya yaitu satunya kata dengan perbuatan.Jika seorang pemimpin atau pejabat tidak dapat menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya,maka sudah pasti kepemimpinannya akan menjadi tidak efektif lagi,karena telah kehilangan kekuatan etika dan moral yang menjadi landasan tegaknya kekuasaan.

 

Karena itu kecenderungan munculnya sikap dan pemikiran yang irasional dari pemimpin atau pejabat,dengan menguatnya cara-cara berpikir halusinasi atau bertahayul tentang majinasi angin surga seharusnya dikurangi dan di tekankan serendah mungkin jika tidak mungkin di hilangkan.Terlalu mahal harganya untuk menyerahkan nasib bangsa yang sudah mencapai 288,3 juta orang ini kepada praktik- praktik mistis dan takhayul.

Reformasi pada hakikatnya merupakan hukum alam,suka atau tidak suka tetap harus di jalani terus,dan sebagi manusia maka reformasi harus di jalankan dengan kecerdasan,baik kecerdasan intelektual,kecerdasan emosional,maupun kecerdasan spiritual.Reformasi harus menjadi pembebasan manusia dari jebakan egoisme yang sempit.Reformasi harus di mulai dari revolusi kebudayaan,karena melalui kebudayaan manusia menyatakan eksistensinya.Revolusi kebudayaan adalah revolusi berpikir,tidak anarki,bahkan sebaliknya mencerahkan,dan menjadi proses transendesi.

 

Baca juga :  Pemilihan Rektor Untrib Kalabahi Akan Digelar Sesudah Tiga Kandidat Paparkan Visi Misi Dan Program Kerja 

Gregorius Matrecano:Aktivis politik