POLGAS (politik Gagasan) adalah Media Independen yang mengulas Dunia Politik dengan pendekatan ilmiah, mengkaji hubungan antara masyarakat dan negara.
[instagram-feed feed=1]

APBN Bukan untuk kemewahan elite – APBN Bukan untuk program yang tidak produktif – APBN Bukan untuk oligarki.
Oleh: Leopold Therik
(Politisi & Pemerhati Global / Ketua Bappilu Presiden DPW PERINDO NTT)
Indonesia dapat dibayangkan sebagai sebuah bus besar yang mengangkut penumpang menuju satu tujuan: kesejahteraan. RAPBN adalah bekal perjalanan. Namun, pertanyaan terpenting bukan sekadar berapa besar bekalnya, melainkan ke mana bekal itu diarahkan, siapa yang menikmatinya, dan apakah seluruh penumpang memperoleh kesempatan adil untuk mencapai tujuan.
Inilah filosofi APBN 2027. APBN tidak boleh berhenti sebagai angka dalam dokumen negara. APBN harus sampai di meja makan rakyat, masuk ke kantong rakyat melalui pekerjaan dan pendapatan, serta menjadi modal produktif yang menggerakkan ekonomi dari desa sampai kota, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Konstitusi memberikan mandat tegas:
Maka pemerataan fiskal bukan kemurahan hati pusat, melainkan konsekuensi konstitusional.
Indonesia adalah negara kepulauan. Biaya membangun jalan, mengirim guru, menyediakan dokter, mendistribusikan obat, membawa bahan pangan dan menghubungkan pasar di NTT, Maluku, Papua, wilayah perbatasan dan daerah 3T tidak sama dengan biaya di pusat-pusat ekonomi Jawa. Karena itu, keadilan fiskal tidak berarti semua daerah menerima nominal sama. Keadilan berarti setiap warga memperoleh kesempatan pelayanan dan pembangunan setara dengan memperhitungkan kebutuhan serta biaya geografis.
APBN 2027 harus memperkuat afirmasi bagi Papua, Maluku, NTT dan wilayah 3T. Formula Transfer ke Daerah perlu semakin sensitif terhadap:
UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang HKPD telah menjadi fondasi penting. Tantangannya adalah memastikan desain fiskal menghasilkan konvergensi, bukan sekadar distribusi administratif.
Pendidikan dan kesehatan harus menjadi investasi. Jika alokasi pendidikan minimal 20 persen sudah menjadi amanat konstitusi, ukurannya jangan berhenti pada penyerapan anggaran. Pertanyaannya: apakah kualitas sekolah meningkat, guru tersedia, anak miskin dapat melanjutkan pendidikan, lulusan memperoleh keterampilan, dan kesenjangan antarwilayah mengecil?
Demikian pula kesehatan. Puskesmas tanpa dokter, obat, alat dan sistem rujukan bukanlah pelayanan utuh. Kesehatan gratis harus dimaknai sebagai keterjangkauan layanan, bukan sekadar slogan.
APBN juga harus lebih produktif. Setiap rupiah belanja perlu memiliki jalan menuju peningkatan produktivitas. Pertanian, peternakan, perikanan, pangan, energi, industri, UMKM, ekonomi digital, infrastruktur konektivitas dan pendidikan vokasi harus diarahkan untuk menciptakan nilai tambah serta lapangan kerja. Rakyat harus menjadi pelaku ekonomi, bukan sekadar objek belanja pemerintah.
Karena itu, program yang tidak produktif harus dihentikan, dipangkas atau dikonsolidasikan. Efisiensi jangan dimulai dari guru, tenaga kesehatan, sekolah atau pelayanan dasar. Efisiensi harus dimulai dari:
Kabinet dan BUMN juga perlu ditata berdasarkan fungsi, efektivitas dan produktivitas. Kabinet ramping bukan sekadar soal jumlah kementerian, tetapi menghilangkan duplikasi kewenangan dan biaya koordinasi. BUMN harus dikonsolidasikan berdasarkan alasan strategis kepemilikan negara, profesionalisme dan kontribusi kepada publik. Yang sehat diperkuat; yang tumpang tindih dikonsolidasikan; yang tidak strategis dan terus merugi dievaluasi transparan.
Yang paling penting: APBN tidak boleh menjadi mesin pembiayaan oligarki. Negara boleh bekerja sama dengan dunia usaha, tetapi harus ada kompetisi sehat, transparansi, akuntabilitas dan manfaat publik terukur. Jangan terjadi keuntungan diprivatisasi sementara risiko bisnis disosialisasikan kepada rakyat. Setiap proyek besar harus diuji:
Utang pun harus diperlakukan sebagai instrumen, bukan tujuan. Pembiayaan dapat dibenarkan apabila memperkuat produktivitas, infrastruktur, kualitas manusia dan kapasitas ekonomi. Prinsipnya sederhana: borrow for productivity, not for extravagance.
Sebab itu, saya mengusulkan APBN 2027 berdiri di atas empat pilar utama:
Ukuran keberhasilan APBN bukan hanya pertumbuhan ekonomi, serapan anggaran atau defisit terkendali. Ukurannya adalah apakah pendapatan rakyat meningkat, lapangan kerja bertambah, harga pangan terjangkau, anak-anak memperoleh pendidikan berkualitas, rakyat mendapatkan layanan kesehatan, UMKM naik kelas, dan kesenjangan wilayah menyempit.
Pada akhirnya, APBN adalah uang rakyat. Karena itu, setiap rupiah harus mempunyai jalan menuju rakyat.
APBN 2027 harus menjadi APBN yang terasa: di meja makan, di sekolah, di Puskesmas, di pasar, di sawah, di laut, di bengkel, di usaha kecil, dan di kantong keluarga Indonesia.
Melainkan APBN untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dan untuk memastikan Indonesia Timur bukan halaman belakang Republik, melainkan bagian depan pembangunan nasional.
Inilah saatnya mengubah APBN dari bekal perjalanan menjadi mesin keadilan sosial.
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Trending