Lomba Orasi Se-Undana 2025: Wujud Nyata Tanggung Jawab Moral Mahasiswa, BEM PT Undana: Berpikir Kritis Bukan Ancaman, Tapi Aset Bangsa

Kupang, PG.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi (BEM PT) Universitas Nusa Cendana menegaskan bahwa berpikir kritis dan berani menyuarakan pendapat bukanlah bentuk pelanggaran terhadap aturan, melainkan wujud nyata tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa.

Pernyataan ini disampaikan dalam momentum Lomba Orasi Se-Undana 2025, pada Jumat 7 November 2025, yang sukses digelar dengan mengusung tema:

“Pemuda sebagai Pilar Perubahan: Merawat Persatuan dalam Keberagaman untuk Membangun Indonesia yang Berkeadilan, Berintegritas, dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045.”

Kegiatan yang diikuti oleh 35 peserta dari 9 fakultas ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Undana tetap memiliki ruang berpikir, berdialektika, dan menyuarakan gagasan secara konstruktif untuk kemajuan bangsa.

Dalam pidatonya, Ketua BEM PT Undana, Agnesia B. Selly, menegaskan bahwa kegiatan seperti lomba orasi bukan hanya ajang adu retorika, melainkan ruang pembentukan karakter intelektual mahasiswa.

“Kritik bukanlah bentuk perlawanan terhadap aturan, tetapi cara mahasiswa menjaga nurani dan nalar kampus agar tetap hidup,” ujar Agnesia, sembari menyampaikan kita hidup di masa di mana keberanian berpikir sering kali disalahpahami sebagai bentuk pelanggaran. Padahal sejarah bangsa ini lahir dari pikiran-pikiran yang berani menembus batas. Dari Soekarno, Sjahrir, hingga Tan Malaka — mereka tidak diam karena takut salah, tetapi bergerak karena cinta pada kebenaran.”

Agnesia juga menekankan bahwa BEM PT Undana berdiri bukan untuk menantang aturan, melainkan untuk menghidupkan kembali semangat intelektual dan keberanian moral mahasiswa Undana.

“Kami ingin menegaskan: berpikir kritis bukan ancaman, tetapi aset bangsa. Mahasiswa yang bertanya, menggugat, dan menawarkan solusi — justru itulah mahasiswa yang menjalankan fungsinya sebagai insan akademik,” tegasnya.

Ia mengajak seluruh mahasiswa Undana untuk terus menjaga integritas berpikir, keberanian bersuara, dan semangat kolaborasi dalam keberagaman.

Baca juga :  Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kupang Paparkan Capaian dan Komitmen Pelayanan Publik Selama 100 Hari Kerja

“Mari kita lawan ketakutan dengan pengetahuan, lawan kebisuan dengan keberanian, dan lawan apatisme dengan aksi nyata. Karena Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari generasi yang diam, tetapi dari generasi yang berpikir, berbicara, dan bekerja dengan hati,” serunya.

Lomba orasi ini juga disambut positif oleh pimpinan universitas. Dalam sambutannya, Rektor Undana menegaskan pentingnya memberi ruang bagi mahasiswa untuk berekspresi dan mengasah daya kritis.

“Mahasiswa membutuhkan ruang untuk berpikir kritis terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Lomba orasi seperti ini menjadi wadah strategis untuk melatih kemampuan komunikasi publik yang akan sangat berguna di dunia profesional,” ungkap beliau.

Melalui kegiatan ini, BEM PT Undana berharap orasi mahasiswa tidak hanya berhenti di podium, tetapi menjadi gerak nyata dalam menegakkan nilai keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan di tengah masyarakat.

“Kami percaya, dari ruang kecil ini akan lahir pemikir dan pemimpin masa depan yang tak hanya fasih berbicara, tapi jujur berpikir dan berani bertindak. Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Salam pembebasan — salam perubahan!” tutup Agnesia. (*Eka Blegur).