POLGAS (politik Gagasan) adalah Media Independen yang mengulas Dunia Politik dengan pendekatan ilmiah, mengkaji hubungan antara masyarakat dan negara.
[instagram-feed feed=1]

Kupang, PolGas- Dalam upaya membangun ketangguhan komunitas sekolah dasar di wilayah pesisir terhadap risiko bencana dan perubahan iklim, Yayasan CIS Timor dan Save the Children Indonesia melalui Program Generation Ready (GENRE) menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) bagi guru SD di sekolah dampingan program di Kabupaten Kupang. Jumat,(20/3/2026).
Belasan guru dari sejumlah SD dampingan di Kecamatan Kupang Barat, Semau, dan Semau Selatan dilatih untuk mendampingi para siswa memproduksi media kreatif sebagai sarana kampanye kesiapsiagaan bencana.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kesadaran Guru Terkait Isu dan Pendekatan Program dalam Mendukung Anggota Media & Maker Labs untuk Pengurangan Risiko Bencana (PRB) – Adaptasi Perubahan Iklim (API) yang Berpusat pada Anak, Responsif Gender dan Inklusif” ini berlangsung di Hotel Aston Kupang, pada 18-20 Maret 2026. Pelatihan ini diikuti oleh 18 guru dari 9 SD dampingan Program GENRE, di mana setiap sekolah diwakili oleh satu guru laki-laki dan satu guru perempuan guna memastikan implementasi pendampingan untuk mendukung keterlibatan anak perempuan dan anak laki-laki dalam kerangka perlindungan anak.
Program GENRE adalah program yang diimplementasikan oleh Save the Children Indonesia melalui Yayasan CIS Timor sebagai mitra pelaksana, dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Australia melalui DFAT–ANCP. Program yang diimplementasikan di Kabupaten Kupang dan Sumba Barat Daya hingga tahun 2027 ini berfokus pada peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan anak-anak serta komunitas sekolah dasar di wilayah pesisir terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam.
“Anak-anak di wilayah pesisir adalah kelompok yang paling rentan terdampak oleh bencana hidrometeorologis.. Melalui Program GENRE ini, kita tidak hanya ingin melindungi mereka, tetapi juga memberdayakan mereka. Para guru fasilitator yang kita latih hari ini adalah garda terdepan untuk mentransformasi anak-anak kita dari sekadar kelompok rentan menjadi agen perubahan iklim yang tangguh dan mampu menyuarakan pendapatnya,” ungkap Haris Oematan, Direktur Yayasan CIS Timor.
Lebih lanjut, Haris juga mengatakan bahwa membangun komunitas sekolah dasar yang sadar iklim dan tangguh bencana sangat diperlukan demi memastikan keselamatan anak-anak. Terlebih, perubahan iklim dan ancaman bencana hidrometeorologis di wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin nyata dari hari ke hari, sehingga menuntut pendekatan mitigasi komprehensif yang secara khusus melibatkan anak-anak usia sekolah dasar.
“Tujuan utama kita adalah membangun kapasitas anak melalui alat respons darurat dan pembelajaran yang ramah anak sekaligus inklusif. Melalui wadah Student Media & Maker Labs ini, anak-anak akan belajar kesiapsiagaan bencana secara kreatif. Mereka akan difasilitasi dalam wadah After School Club untuk mengekspresikan pemahaman mereka tentang adaptasi iklim melalui karya visual, tulisan, maupun video. Hal ini memungkinkan pesan kesiapsiagaan bencana dipahami dan dikampanyekan dengan lebih efektif sesuai dengan perspektif anak,” jelas Ken Djami, Program Coordinator GENRE Save the Children Indonesia.
Gandeng Akademisi hingga Praktisi Profesional.
Selama tiga hari, para peserta menerima materi komprehensif yang memadukan teori kesiapsiagaan bencana dengan praktik pembuatan media kreatif melalui metode micro-teaching. Untuk memastikan kualitas materi, Program GENRE menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi profesional di bidangnya.
Sesi kesiapsiagaan bencana yang responsif terhadap isu Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) difasilitasi oleh Desderdea Kanni dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD NTT. Sementara itu, pemetaan risiko dan identifikasi sebab-akibat perubahan iklim dipaparkan oleh Leny Mooy, akademisi Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang.
Untuk menerjemahkan isu iklim ke dalam bentuk karya aplikatif, para guru dibekali keterampilan teknis pembuatan konten. Jurnalis senior Matheos Viktor Messakh menjadi fasilitator untuk tema media dan informasi, dan sastrawan Mario F. Lawi memfasilitasi teknik penulisan cerita pendek dan puisi bertema bencana. Sementara itu, di sesi visual, fotografer dan videografer Agusto Bunga melatih peserta dalam pembuatan foto cerita dan produksi video pendek menggunakan telepon pintar.
Antusiasme tinggi terlihat dari para peserta pelatihan. Salah satu peserta yang merupakan guru dari SD pesisir di Kabupaten Kupang mengungkapkan rasa optimisnya terhadap pendekatan baru ini.
“Selama ini kami di sekolah terkadang bingung bagaimana mengajarkan mitigasi bencana yang mudah dipahami oleh anak usia SD. Pelatihan ini membuka mata kami. Ternyata isu berat seperti perubahan iklim bisa diajarkan lewat puisi, cerita pendek, atau bahkan video singkat dari handphone. Kami sudah tidak sabar untuk kembali ke sekolah dan membentuk klub ini bersama anak-anak di sekolah kami,” ungkap Zet Feoh, salah satu guru perwakilan peserta dalam sesi evaluasi.
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, para peserta akan membentuk After School Club (Klub Sepulang Sekolah) di sekolah masing-masing. Klub ini menargetkan rekrutmen sebanyak 16 siswa pada siklus pertama, yang akan didampingi untuk memproduksi karya kreatif terkait Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Seluruh karya anak-anak tersebut nantinya akan dipublikasikan dan dipamerkan dalam ajang festival kesiapsiagaan bencana tingkat sekolah.
Setelah pelaksanaan di Kupang, kegiatan pelatihan yang sama dengan kurikulum tematik singkat terkait kesiapsiagaan bencana dan perubahan iklim juga akan diselenggarakan bagi 16 guru SD dampingan Program GENRE di wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya. Kegiatan tersebut dijadwalkan pada minggu berikutnya di Tambolaka.
Gandeng Akademisi hingga Praktisi Profesional.
Selama tiga hari, para peserta menerima materi komprehensif yang memadukan teori kesiapsiagaan bencana dengan praktik pembuatan media kreatif melalui metode micro-teaching. Untuk memastikan kualitas materi, Program GENRE menghadirkan sejumlah akademisi dan praktisi profesional di bidangnya.
Sesi kesiapsiagaan bencana yang responsif terhadap isu Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) difasilitasi oleh Desderdea Kanni dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) BPBD NTT. Sementara itu, pemetaan risiko dan identifikasi sebab-akibat perubahan iklim dipaparkan oleh Leny Mooy, akademisi Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang.
Untuk menerjemahkan isu iklim ke dalam bentuk karya aplikatif, para guru dibekali keterampilan teknis pembuatan konten. Jurnalis senior Matheos Viktor Messakh menjadi fasilitator untuk tema media dan informasi, dan sastrawan Mario F. Lawi memfasilitasi teknik penulisan cerita pendek dan puisi bertema bencana. Sementara itu, di sesi visual, fotografer dan videografer Agusto Bunga melatih peserta dalam pembuatan foto cerita dan produksi video pendek menggunakan telepon pintar.
Antusiasme tinggi terlihat dari para peserta pelatihan. Salah satu peserta yang merupakan guru dari SD pesisir di Kabupaten Kupang mengungkapkan rasa optimisnya terhadap pendekatan baru ini.
“Selama ini kami di sekolah terkadang bingung bagaimana mengajarkan mitigasi bencana yang mudah dipahami oleh anak usia SD. Pelatihan ini membuka mata kami. Ternyata isu berat seperti perubahan iklim bisa diajarkan lewat puisi, cerita pendek, atau bahkan video singkat dari handphone. Kami sudah tidak sabar untuk kembali ke sekolah dan membentuk klub ini bersama anak-anak di sekolah kami,” ungkap Zet Feoh, salah satu guru perwakilan peserta dalam sesi evaluasi.
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, para peserta akan membentuk After School Club (Klub Sepulang Sekolah) di sekolah masing-masing. Klub ini menargetkan rekrutmen sebanyak 16 siswa pada siklus pertama, yang akan didampingi untuk memproduksi karya kreatif terkait Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Seluruh karya anak-anak tersebut nantinya akan dipublikasikan dan dipamerkan dalam ajang festival kesiapsiagaan bencana tingkat sekolah.
Setelah pelaksanaan di Kupang, kegiatan pelatihan yang sama dengan kurikulum tematik singkat terkait kesiapsiagaan bencana dan perubahan iklim juga akan diselenggarakan bagi 16 guru SD dampingan Program GENRE di wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya. Kegiatan tersebut dijadwalkan pada minggu berikutnya di Tambolaka.
Tentang Save the Children Indonesia.
Save the Children percaya setiap anak berhak mendapatkan masa depan. Di Indonesia dan di seluruh dunia, Save the Children melakukan apapun yang harus dilakukan—setiap hari dan saat krisis—agar anak-anak mendapatkan pemenuhan hak atas hidup yang sehat, kesempatan untuk belajar, dan perlindungan. Pakar kami pergi ke tempat yang paling sulit dijangkau di mana sangat sulit untuk menjadi anak-anak.
Save the Children memastikan kebutuhan unik anak-anak terpenuhi dan suara mereka didengarkan. Bersama anak-anak, keluarga dan masyarakat, serta pendukung di seluruh dunia, kami mencapai hasil berkelanjutan untuk jutaan anak.
Dengan pengalaman lebih dari 100 tahun, kami adalah yang pertama dan terkemuka di dunia organisasi independen untuk pemenuhan hak anak—mengubah kehidupan dan masa depan kita bersama.
Tentang Program GENRE (Generation Ready)
Program Generation Ready (GENRE) merupakan hasil kolaborasi antara Save the Children Indonesia dan Yayasan CIS Timor dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Australia melalui DFAT–ANCP. Program ini diimplementasikan di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sumba Barat Daya hingga 31 Juli 2027. Program GENRE berfokus pada peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan anak-anak serta komunitas sekolah dasar di wilayah pesisir terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam. (*/Polgas).
Trending