“Sinyal Tak Menyapa Desa Poto” : Opini Oleh Justus Petrus Karma S.Pd, Pemuda Desa Poto Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang

Desa Poto merupakan pusat kota dari lima desa yang berada di kecamatan Fatuleu Barat setelah dimekarkan pada tahun 2005, melalui kecamatan Fatuleu, desa ini berjarak sekitar 46 kilometer dari ibu kota bupaten Kupang dan jarak sekitar 92,5 kilometer dari Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Setelah bertahun-tahun saya berada di desa Poto, sambil berkeliling ke empat desa tetangga yang berada di kecamatan Fatuleu Barat saya sepertinya merasa pilu terhadap desa saya sendiri bagaimana mungkin desa yang harusnya menjadi perhatian khusus dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten dan hingga provinsi ini malah berbanding terbalik.

Hal demikian timbul dalam benat saya bagaimana ini bisa terjadi seperti ini, dimana beberapa desa yang berada di fatuleu barat sudah memiliki akses internet yang terbilang cukup memadai seperti desa Nuataus yang sudah memiliki salah satu pemancar yang menjangkau dua desa tetangga yakni desa Naitae dan desa Tuakau sementara desa Kalali memiliki salah tower yang hanya dapat dijangkau oleh wilayah desanya sendiri.

Ironisnya lagi desa Poto ini letaknya berada di tengah-tengah yang kelilingi oleh empat desa di kecamatan Fatuleu Barat, Walaupun pada tahun 2021 atas dedikasi Pemerintah setempat melalui bakti Kominfo sempat mendirikan sebuah tower kecil, namun tower ini hanya dapat digunakan sekitar satu bulan saja. dan tidak lagi berfungsi sampai dengan saat ini.

Dari sebagian besar Desa yang berada di sudut negeri ini yang sampai saat ini belum memiliki akses internet, desa Poto tergolong ada didalamnya, desa yang masih hidup di antara jeda bukan jeda waktu, melainkan jeda sinyal.

Di desa ini, layar ponsel lebih sering memantulkan wajah sendiri ketimbang notifikasi yang masuk. Tak ada dering pesan WhatsApp, tak ada notifikasi tugas daring, dan tak ada tanda centang biru yang menjadi simbol kehadiran seseorang di dunia digital. Di desa ini, jaringan internet masih menjadi legenda diceritakan dari mulut ke mulut, seperti kisah dongeng yang belum tentu benar adanya.

Baca juga :  Disnakertrans Alor Sebut Pihak Simfoni Hotel Belum Bayar Upah 100 Juta Lebih Terhadap 9 Karyawan Ada Juga Zusuki Mobil Berhentikan Satu Karyawan Belum Bayar Upahnya 

Ironisnya, negeri ini berulang kali berteriak tentang digitalisasi, tentang ekonomi berbasis teknologi, tentang desa cerdas dan revolusi industri 4.0. Namun bagaimana bisa sebuah desa menjadi “cerdas” bila untuk mengirim satu email saja, warganya harus menyeberangi bukit atau memanjat pohon demi menangkap sinyal yang malu-malu?

Anak-anak di desa ini belajar bukan lewat Google, melainkan lewat ketekunan dan tanya. Mereka menyalin catatan dari satu buku ke buku lain, sementara di kota, anak-anak sebayanya menyalin dari internet. Dunia mereka berjalan lambat tapi justru di situlah keindahannya. Mereka masih mengenal waktu yang tidak terburu-buru, percakapan tanpa delay, dan tawa tanpa emotikon.

Namun romantisisme tak seharusnya menjadi alasan untuk ketertinggalan. Internet bukan lagi kemewahan; ia kini adalah kebutuhan dasar, seperti air dan listrik. Ia membuka jendela dunia, mempertemukan ide, memperluas kesempatan. Tanpa jaringan, sebuah desa ibarat kapal tanpa kompas berlayar, tapi tak tahu ke mana arah.

Maka, ketika dunia berbicara tentang kecerdasan buatan dan kota pintar, mungkin sudah saatnya juga berbicara tentang “desa tersambung”. Sebab kemajuan sejati bukan hanya ketika menara BTS menjulang di kota, melainkan ketika sinyal sampai ke sawah, ke ladang, ke sekolah kecil di ujung desa.

Karena sejatinya, kemajuan bukan diukur dari seberapa cepat koneksi kita, tapi dari seberapa banyak orang yang bisa ikut terhubung dalam jaringan itu termasuk mereka yang selama ini hanya bisa menatap langit, berharap sinyal datang bersama angin.

Justus Petrus karma, S.Pd

Pemuda Desa Poto Kecamatan Fatuleu Barat Kabupaten Kupang NTT, Alumni Prodi Universitas Muhammadiyah Kupang.(Bufen)