Pikiran, Kelangkaan dan Keserakahan

Selamat siang para pemirsa FB. Bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja. Ijinkan saya untuk berbagi bacaan hari ini tentang psikologi kelangkaan (Psychology of Scarcity). Mari kita mulai.

Kita selalu mencari “kenikmatan tertinggi” (eudaimonia). Hal ini dapat diperoleh jika kita mampu untuk berpikir jernih dan membuat pilihan yang bijak. Namun, dalam hidup kekinian, uang sering kali menjadi penghalang besar bagi kejernihan pikiran. Psikologi kelangkaan memberi kita informasi bahwa ketika seseorang memiliki uang yang sangat sedikit, pikiran secara otomatis terbebani dan fokusnya menjadi sempit hanya pada kekurangan tersebut. Otak kita seperti dialihkan untuk menghitung sisa saldo tabungan. Kondisi yang tertekan ini membuat kita terus-menerus bergulat dengan kekurangan. Hal ini kemudian secara efektif mengurangi kemampuan kita untuk merencanakan masa depan, belajar hal baru, atau bahkan mengontrol emosi.

​Mullainathan dan Shafir dalam teorinya menyebutkan konsep “Bandwidth Kognitif”. Kata mereka, otak kita ini seperti komputer. Ketika kekurangan uang, pikiran tentang tagihan atau makan apa hari ini adalah “program berat” yang berjalan di latar belakang (background). Program ini menghabiskan daya pemrosesan (bandwidth) yang seharusnya digunakan untuk program lain, seperti belajar untuk ujian sekolah, mencari pekerjaan yang lebih baik, atau berhemat. Ketika bandwidth ini berkurang, kita menjadi lebih rentan terhadap keputusan yang impulsif dan buruk. Contoh: kita cenderung membeli makanan cepat saji yang mahal karena lapar sekarang. Ini adalah cara memecahkan masalah jangka pendek. Meskipun kita tahu bahwa sungguh alangkah baik berhemat jika memasak sendiri (menyelesaikan masalah dengan perencanaan jangka panjang).

Di ranah praktis mengenai uang, fenomena ini terlihat sangat jelas. Orang yang kekurangan uang akan cenderung melihat kesempatan untuk mendapatkan uang kecil. Meskipun hal itu merugikan mereka di masa depan. Misalnya, mengambil pinjaman jangka pendek dengan bunga tinggi. Secara rasional, membayar bunga pinjaman 25% per bulan adalah keputusan yang buruk. Akan tetapi, bagi seseorang yang sedang mengalami kelangkaan tingkat dewa, pinjaman itu adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah saat ini. Otak yang terbebani tentu tidak akan mampu memproses risiko jangka panjang. Otak hanya berfokus pada cara untuk “keluar dari lingkaran masalah secara instan.

Baca juga :  Indomaret Diberi Karpet Merah, UMKM Dibiarkan Luka: Potret Buram Pengelolaan Ekonomi Kabupaten Alor, Opini Oleh: Sanji Hasan, Generasi Muda Alor

​Keserakahan dalam perspektif ini tidak hanya dipahami sebagai kejahatan moral, tetapi juga sering dipandang sebagai respon evolusi yang berlebihan terhadap kelangkaan yang berulang. Jika kita tumbuh dalam kemiskinan atau ketidakpastian keuangan, maka dorongan untuk terus mengumpulkan dan menimbun (serakah) adalah cara untuk memastikan bahwa rasa sakit kekurangan itu tidak akan pernah kembali. Bagaimana dengan orang kaya yang serakah? Sama, hanya saja item kelangkaannya berbeda. Orang kaya yang “serakah” tidak lagi didorong oleh kekurangan uang, tetapi oleh kelangkaan hal lain. Apa itu? Bisa saja kekuasaan, status, atau pengakuan/validasi.

Dengan memahami ini, kita akhirnya sadar bahwa masalah kemiskinan bukan hanya tentang kurangnya uang, tetapi juga kurangnya kapasitas mental untuk keluar dari kemiskinan. Untuk membantu orang kembali ke jalur berpikir jernih dan mandiri, kita memang perlu mengurangi tekanan kelangkaan ini terlebih dahulu. Kita bisa menyediakan dukungan sementara berupa makanan, waktu, atau uang bagi mereka yang miskin. Dengan kata lain, kita membantu mereka “membebaskan bandwidth” mental mereka.

Pemirsa FB yang budiman. Demikianlah kuliah semenit hari ini. Bekerjalah! Jangan terus menerus scroll laman di layar handphone. Kontrol cara berpikir. Sempatkanlah memikirkan sesuatu untuk “jangka panjangnya” meski situasi ekonomi etc lagi mendera. Ketika pikiran bebas dari kekhawatiran yang mendesak, mungkin kita dapat membuat keputusan yang lebih bijak. Dan bilamana itu terjadi, kita menjadi pribadi sedikit lebe bae dari hari kemarin.

Selamat Natal Teman-Teman Rayon X, JBK.

Belo, 13 Desember 2025, Panti Asuhan Syalom.